<~Welcome~>
  • Dalam Gelap

    Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain justru tetap berada dalam kegelapan.

    --Mother Teresa--

  • Pahlawan

    Dan seorang Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.

    --Soe Hok Gie--

  • Apa Gunanya?

    Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah.

    Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?

    --Emha Ainun Nadjib--

  • Pujian dan Hinaan

    "Aku puji dan hina diriku sendiri sebelum orang lain memuji dan menghina diriku,

    sehingga semoga baik pujian maupun hinaan mereka tak berpengaruh terhadapku.

    la yakhafu laumata laim wala yafrahu madhal madihin

    --Me--

  • Dunia | Akhirat

    Jika engkau melihat seseorang yang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka ungguli dia dalam perkara akhirat.

    --Hasan al Bashri --

Senin, 12 Agustus 2013

7 Tingkatan/Derajat diri menurut Psikologi Sufi.

Diterjemahkan dari The Degrees of The Self (Maratib al-Nafs)
karangan Syekh Abdul Khaliq al-Syabrawi.
(beliau adalah Mursyid dan Guru Besar di Universitas Al-Azhar, Kairo).
terbitan the Quilliam Press, London, 1997.

--------------------------------------------------------------------------
Bagian 1.
Jiwa yang Memerintahkan Kejahatan (al-Nafs al-Ammarah)

Perjalanannya "menuju" Allah.
Dunianya adalah alam nyata [alam al-syahadah]
Letaknya di dalam dada.
Sifat adalah condong kepada hasrat.
Warid-nya adalah syari'ah.
--------------------------------------------------------------------------

Jiwa yang memerintahkan kejahatan ini adalah jiwa rasional dan hati, yang mengenainya Allah SWT berfirman, 'Peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal'  (Q.S. Qaf [50]:37) yang dimaksudkan bukanlah sepotong daging, melainkan esensi halus bersifat ketuhanan [al-lathifah al-arabbanhiyyah]. Akan tetapi jika ia kotor karena kecondongan kepada sifat jasmaninya, menemukan kenyamanan di dalam hawa nafsu, dan berkawan dengannya ia termasuk ke dalam derajat binatang. Sifat-sifatnya yang terpuji menjadi tercela, ia jadi berbeda dari hewan hanya dalam bentuk lahirnya, dan setan menjadi salah satu pasukannya.

*Sifat-sifatnya terdiri atas kebodohan, kikir, rakus, sombong, pemarah, tamak, serakah, dengki, bingung, berperangai buruk, sok usil melalui ucapan maupun perbuatan, menghina, membenci, perilaku menyakitkan dengan tangan maupun lidah, seperti jiwa jahat yang dituturkan Zulaykha, dalam kisah cintanya kepada Yusuf A.S "Karena sesungguhnya jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan" (Q.S Yusuf [12] : 53).

Pada tahap ini bacalah La ilaha illallah, artinya : tidak ada yang patut disembah selain Allah.

Banyak-banyaklah berdo'a dan janganlah pernah merasa jemu.
Janganlah berkata bahwa Allah tidak mengabulkan Do'amu,
sebab hal itu akan menjauhkanmu dari Yang Maha Benar.

Nabi Saw bersabda, "Tinggalkan dunia kepada kepada para budaknya. Orang yang mengambil dari dunia ini lebih dari yang dibutuhkannya berarti membinasakan dirinya sendiri secara tidak sadar." Artinya orang yang mengejar dunia di luar batas kebutuhannya berarti secara tidak sadar tengah mengejar kebinasaan dirinya sendiri.

Selama berada di dalam tingkatan yang sempit dan hina ini, engkau harus memusatkan perhatianmu kepada pembebasan dirimu dari belenggu hawa nafsu menuju ruang terbuka jiwa. Tujuanmu adalah membebaskan diri dari semua sifat tercela(*) DAN mendapatkan sifat-sifat terpuji.

Oleh karena itu, tukarlah keangkuhanmu dengan sikap rendah hati, rasa benci dengan cinta, rasa ingin dipuji dengan keikhlasan, ketenaran dengan penyendirian, hingga tak ada seorang pun yang memuji atau mencelamu. Ketahuilah pula bahwa jika engkau telah menyucikan dirimu dari semua kesalahan itu, Niscaya engkau akan memiliki Keajaiban dan rahasia tertentu, berkat pertolongan Allah Swt.


--------------------------------------------------------------------------
Bagian 2.
Jiwa yang Penuh Penyesalan (al-Nafs al-Lawwamah)

Perjalanannya adalah "menuju" Allah.
Dunianya adalah alam Antara (barzakh).
Tempatnya adalah hati.
Keadaannya adalah cinta.
Warid-nya adalah syari'ah.
Sifatnya adalah mencela diri sendiri,
merenung, congkak, mencela orang lain,
ingin dipuji, dan cinta kepada ketenaran dan kekuasaan.
--------------------------------------------------------------------------

Mungkin masih ada bekas-bekas Nafs Ammarah di dalam diri (Bagian 1);
namun terlepas dari hal ini, ia mampu mengakui kebenaran sebagai kebenaran, dan kesesatan sebagai kesesatan, serta mengakui sifatnya yang tercela.

Amal saleh dikerjakan, bangun dimalam hari, berpuasa, dan sebagainya. Namun begitu semua ini dinodai oleh sifat congkak dan rasa ingin dipuji. Pemilik jiwa semacam ini menyembunyikan amal salehnya dan beramal karena Allah (bukan karena manusia), Akan tetapi.. dia ingin agar orang lain mengetahui perbuatannya agar dia dipuji dan dihargai, namun dia mencela kecenderungan ini, dan diakuinya sendiri. Dia sama sekali tidak mampu menghilangkan hal itu dari hatinya. Untuk menghilangkan hal itu dia harus ikhlas dan tabah;

TETAPI, orang-orang  yang ikhlas dan tabah sekalipun masih berada dalam bahaya yang besar, sebab mereka ingin tahu bahwa mereka memang ikhlas dan ini semua menjurus kepada sifat ingin dipuji yang terselubung. Sedangkan sifat yang ingin dipuji terang-terangan adalah beramal demi dilihat orang lain; Inilah "kemusyrikan terselubung" yang benar benar tercela.

Ketahuilah bahwa jika memiliki sifat ini, engkau tengah berada pada tingkatan kedua dan jiwamu disebut Jiwa Penuh Penyesalan atau Jiwa yang Mencela Diri Sendiri, inilah tingkatan yang di dalamnya tak seorang pun aman dari bahaya, meski keikhlasan menghiasi amal seseorang seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Inilah tingkatan kedua dalam pengembaraan "Orang-Orang yang di Dekatkan ", orang -orang yang mencari kefanaan diri dan kekekalan karena Allah. Mereka diperintahkan untuk mati sebelum waktunya. Guru mereka telah memerintahkan mereka " Matilah sebelum kamu mati ", MEREKA kemudian berjuang untuk mencapai kematian hawa nafsu.

dibagian ini ada pembahasan jelas mengenai perbedaan antara Orang Baik (abrar),
dan 'Orang yang diDekatkan' (muqarrabun)

ada catatan pada bagian ini,  mengenai makanan dalam perut adalah sumber kejahatan, yang berarti makanan dan sebagainya hanya dikurangi, bukan ditinggalkan sama sekali. Hal yang efektif pada tingkatan ini adalah makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang.

Ketahuilah pada tingkatan ini engkau akan sarat dengan pikiran dan bisikan, khususnya jika zikirmu terkesan tanggung. Jalan orang saleh [al-qawn] panjang dan berliku-liku, orang yang dengan tekun mengerahkan segenap tenaga mereka akan mendapatkan segala sesuatu yang mereka inginkan. sedangkan orang yang menunda-nunda dan lalai mendapat rintangan dijalan itu.

Ada sejumlah rintangan, yang terbesar di antaranya adalah bergantung pada makhluk, jika engkau mengharapkan derajat mulia, tinggalkan makhluk dan pusatkan perhatian kepada Allah. rasakan keterasingan dari semua orang, hingga mereka menganggapmu orang gila/aneh. ikhlaslah dalam pencarian dan kerja kerasmu, niscaya keajaiban dan rahasia hati akan terungkap;

engkau akan memasuki Alam Keserupaan (alam al-mitsal), yang bukan alammu sekarang ini.
itulah tingkatan pertama "Orang yang diDekatkan".

Dan disana salik (sang pengembara), akan melihat apa yang tidak ditangkap oleh panca indra. itulah keadaan yang berada diantara tidur dan terjaga, dan biasanya datang kepada salik ketika dia sedang duduk. Kemudian dia melihat apa yang dilihatnya. Keadaannya adalah bahwa dia menyadari waktu dan ruang, dan keadannya antara tidur dan terjaga, sebab jika tidak, tentu itu hanyalah mimpi, dan harus diabaikan dalam hal ini.

intinya.. pada tingkatan kedua, dibutuhkan pembimbing yang sempurna, bukan hanya dari orang yang berilmu, tetapi lebih dari seorang ahli makrifat ('arif) .. /ahli agama islam/ syekh/ ulama/ wali/ guru.


--------------------------------------------------------------------------
Bagian 3.
Jiwa yang Terilhami (al-Nafs al-Mulhamah)
Perjalanannya adalah "menuju" Allah,
yang berarti bahwa pada tingkatan ini pandangan sang pengembara mengarah kepada Allah SWT., sebab hakikat iman telah meresap di dalam batinnya dan segala sesuatu selain Allah Allah SWT sirna dari visi kontemplatifnya.

Alamnya adalah Alam Arwah.
Letaknya adalah ruh.
Keadaannya adalah cinta ('isyq)
Waridnya adalah makrifat (ma'rifah)
--------------------------------------------------------------------------

Sifatnya adalah kemerdekaan, tawakal, pengetahuan, memaafkan orang, menghimbau mereka kepada perilaku bermoral, menerima alasan mereka, dan berpandangan bahwa Allah SWT mengendalikan segala sesuatu yang menggerakan bumi dengan rencana.

Termasuk sifatnya pula adalah kerinduan, perjalanan, menangis, tak kenal lelah, menjauhkan diri dari makhluk, dan datang kepada yang Nyata, perubahan, beriringnya kesempitan dan keluasan, tidak adanya rasa takut dan harapan, senang menyenandungkan pujian, larut dalam kenikmatan mendengarkannya (cinta zikir), kebaikan hati, rida kepada Allah, mengucapkan kata-kata bijak dan pengetahuan, dan visi kontemplatif.

sifat-sifat itulah sifat-sifat Jiwa Yang Dicerahkan, atau terIlhami,
disebut demikian karena Allah SWT mengilhaminya dengan keburukan maupun kebaikan.

dan dia telah mulai mendengar, tanpa perantara, bisikan malaikat dan bisikan setan, meski pada tingkatan sebelumnya dia tidak mendengar apa-apa, sebab dia masih dekat kepada derajat hewan (nafsu). Akibat mendengar bisikan malaikat dan setan ini, tingkatan ini sukar dan (engkau) sang pengembara membutuhkan seorang pembimbing untuk menjauhkan diri dari suramnya keraguan menuju cahaya Allah SWT.

bersambung..
 

0 komentar:

Posting Komentar

+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+
Pembaca yang baik selalu memberikan komentar atas informasi yang diterimanya,
baik berupa kritik, saran atau hanya sekedar komentar.

-----------------------------------------------------
Komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini
~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~