<~Welcome~>
  • Dalam Gelap

    Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain justru tetap berada dalam kegelapan.

    --Mother Teresa--

  • Pahlawan

    Dan seorang Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.

    --Soe Hok Gie--

  • Apa Gunanya?

    Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah.

    Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?

    --Emha Ainun Nadjib--

  • Pujian dan Hinaan

    "Aku puji dan hina diriku sendiri sebelum orang lain memuji dan menghina diriku,

    sehingga semoga baik pujian maupun hinaan mereka tak berpengaruh terhadapku.

    la yakhafu laumata laim wala yafrahu madhal madihin

    --Me--

  • Dunia | Akhirat

    Jika engkau melihat seseorang yang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka ungguli dia dalam perkara akhirat.

    --Hasan al Bashri --

Selasa, 24 Mei 2011

Pencopet Necis di Angkutan Umum 10 Sektor 5

Hari ini.. sepanjang perjalanan turun dari angkutan, aku benar benar puas, tersenyum seperti orang gila. Sampai rumah, sebelum mencuci muka, aku melihat kaca, apa benar aku ini sudah gila?

Tak menyangka aku baru melewati peristiwa perang ' urat syaraf ', bersama seorang copet, copet angkutan umum, Angkutan Umum 10 Sektor 5,  suara yang lunglai,  beserta dua lembar uang dua ribu di tangan kirinya. sayup sayup.. terdengar dia berkata.. "bang.. kiri bang".

Oke,cukup 'intronya', jadi begini ceritanya..

aku di drop sahabat kuliahku, yang rumahnya diharapan baru, tepatnya dipertigaan dekat naga swalayan (harapan)

aku berhenti sejenak, didepan warung kecil pinggiran jalan.
membeli air minum,  dua buah aqua gelas dengan uang dua ribuan..
setelah mbak2 yang aku kira ibu2 tadi mengembalikan kembalian,
beruntung sebelum menyebrang, angkutanku datang..
bergegas aku naik,  membaca hamdalah (alhamdulillah)
lalu minum aqua yang tadi aku beli,

kuperhatikan, bangku depan terisi, terdengar suara laki-laki.
dari cara bicaranya ke supir, sepertinya teman si supir.

dihadapanku hanya ada seseorang pria paruh baya,
alis matanya tebal, sepertinya orangnya serius, wajahnya kotak,
seperti tipe wajah element 'besi',
ia memasang headset yang terhubung dengan handpone dikantongnya,
entah saking kerasnya.. aku mendengar alunan musik keroncong..

lalu selain pria itu, ada seorang wanita.. ia naik bersamaku tadi,
biasa-biasa saja.. kulitnya coklat, berkerudung,
seperti pegawai ramayana..
terlihat baru selesai kerja, bergegas pulang ke rumahnya..

sebelum sampai daerah bernama paku,
ada ibu-ibu naik dengan membawa plastik merah, isinya seperti baju,
ibu ini duduk disampingku, tasnya dipangku.

lalu, ketika angkutan ini sampai di belokan paku (pertigaan),
naiklah seorang lelaki paruh baya,
dari usianya sekitar 28 -30an,

ia duduk diseberang ibu-ibu..
yang tadi duduk disampingku,

ia duduk diantara pria
yang memasang headset mendengarkan lagu keroncong,
dan disamping wanita ( seperti pegawai ramayana)

menggunakan jam tangan keemasan,
baju kemeja, dan celana bahan,
bersepatu kulit coklat,

sejak awal aku merasa ada kejanggalan,
ya itu adalah tasnya.. ia menaruh tasnya didepan dada,

satu menit ia naik,
aku terus memperhatikan,
kepala dan matanya kemana-mana,
tidak bisa diam,

matanya jelalatan memperhatikan semua penumpang,
awalnya mata itu ke arah tas, barang bawaan,
lalu ke saku baju,
lalu ke saku celana,
semua penumpang..
nah, aku sudah menduga,
pria ini tidak beres,

pertama kali ia melirik kearahku,
ia mencari tasku,
(yang aku gemblok dibelakang punggung dan bersender),
*terbiasa posisi duduk dipojokkan,
*tempat favorit untuk memperhatikan.

lalu kembali setelah perjalanan matanya,
ia melihat ke jaketku,
saat itu aku menyilakan kedua tanganku,
dan sengaja aku tidak bergerak sama sekali,

aku ingin dia mengira ngira,
membuatnya menebak,
barang berharga apa yang ingin diambilnya dariku,

ketika wanita berkerudung turun,
ibu-ibu disampingku sudah menyadari ada sesuatu,
ia pindah ke bangku dekat sopir, tempat wanita berkerudung tadi duduk.

bagus bu, kata hatiku,

ketika ibu tadi pindah duduk,
copet itu memperhatikan plastik merah yang dibawa ibu itu,

aku memastikan,
setelah ini ia pasti akan melihat ke arah saku celanaku,
disaku kananku, menggembung, ada sapu tangan berwarna biru,
disaku kiriku.. inilah yang aku khawatirkan,
aku sengaja tidak banyak bergerak, karena isinya Handponeku.
memang tidak terlihat menonjol/terbentuk,
aku mencoba berakting seperti tidak ada apa apa disaku kiriku,
setelah memperhatikan gelagatnya,
melihat cara copet ini bekerja,
aku yakin pria yang mendengarkan keroncong dihadapanku ini,
ia tidak ada kaitannya.

tapi aku yakin..
copet itu sudah meyakinkan aku targetnya.

benar saja, ia lebih sering melirikku,
tapi aku tidak banyak bergerak,
masih sama seperti posisiku,
menyilakan tanganku didepan dadaku,

setiap kali aku melihat dia melirikku,
aku tersenyum sinis sambil berirama, huft hemph,
setelah beberapa saat menajamkan kedua mataku ke matanya,
lalu segera membuang pandanganku,

begitu.. dan begitu.. sampai 3x,

ia lalu berpura pura tidur,
menundukkan wajahnya,
cahaya remang angkutan umum ini,
tidak menutup kekuatan mataku melihat,
matanya kembali melihat ke arah saku celanaku,

dan aku tersenyum sekali lagi,
memandang sinis.

kemudian, membaca doa,
At-Taubah, Al-Ikhlas,
sengaja aku mengeraskan suaraku,
biar copet ini mendengarnya,
*toh yang lagi dengerin keroncongan gak akan terganggu.

inilah yang membuatku lucu,
copet ini kemudian terlihat seperti berdoa juga,
dalam doanya ini, komat-kamit,
menggerakan jari telunjuk dan tengah tangan kanannya,
seperti berolahraga, senam jari sepertinya,
*seperti saat kita membentuk gerakan tanda kutip (" ")

tapi arah jari itu kearahku,
setelah itu ia melakukan gerakan menendang kaki kanannya,
ke sisi samping tempat aku duduk,

nah.. saat itu aku merasa,
handpone disaku kiriku seperti tertarik keluar,
bergerak sedikit demi sedikit,
aku lepas tanganku dari posisi menyila tadi,
dan mencoba mendorong handponeku dengan tangan kiri,
kearah dalam saku celanaku.. sambil mengucap bismillah,

aku mulai berpikir..
ini copet.. jangan jangan bermain main dengan energi,
lalu kaki kanan yang diluruskan tadi..

seperti sengaja,
memasang jejak energi agar aku sulit keluar dari angkutan ini.
(mungkin nanti jatuh, atau sebagainya)

sejenak ku perhatikan..
angkutan ini sudah berbelok ke arah marakash,
satu / dua kilo lagi aku turun ditempat pemberhentianku,

aku ingin menguji, sampai mana kesabaran copet ini..
aku ingin mengerjainya lebih jauh lagi

lalu ada dua orang naik,
lagi lagi kenalan si supir,
aku cukup beruntung,
si copet sepertinya 'down'

aku bersuara ehem ehem,
meyakinkan suaraku tidak hilang,
jaga jaga seandainya copet ini nekat,

aku sudah tidak lagi menyilakan kedua tanganku,
aku menaruhnya dilutut kedua kakiku,

copet itu mengeluarkan  dua lembar uang dua ribuan.
posisi badannya seperti orang mau turun,
lebih dekat kearahku,
sepertinya ia mengira ngira aku mau turun sebentar lagi,
sehingga bisa turun bersamaan dan melancarkan aksinya,
sengaja mengedepankan tubuhnya untuk menghalangi ruang gerakku,

lalu.. aku sekali lagi menangkap matanya memperhatikan celanaku,
langsung saja, aku mengambil dompet,
dengan sengaja terang-terangan didepan matanya,
mengeluarkan uang dua lembar dua ribuan,

membalikkan badanku,
membuka resetling tasku,
LALU AKU MENARUH DOMPETKU ke DALAM TAS,

mencoba mengisyaratkan ke si pencopet..
"MAU NEKAT atau SEKARAT ?"
"JATI DIRIMU SUDAH KETAHUAN"

*seperti seorang detektif jalanan.


aku sadar copet itu masih memperhatikanku
dan benar, ketika aku menangkap matanya,



aku langsung tersenyum, mungkin seperti SETAN!




mengepalkan kedua tanganku,
meng'kretek-kretek'annya seperti preman siap meninju.

langsung saja..
copet itu, wajahnya terlihat melas, layu.
kembali mengambil uang dua lembar dua ribuan,
yang tadi sempat dimasukkan kembali ke saku kemejanya

dan berkata..
"bang, bang depan kiri bang".. sangat sayu, lesu..

sopir tidak berhenti..

sekali lagi ia mengatakan, sedikit lebih keras.. tapi tetap sayu..
"kiri bang.."

0 komentar:

Posting Komentar

+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+
Pembaca yang baik selalu memberikan komentar atas informasi yang diterimanya,
baik berupa kritik, saran atau hanya sekedar komentar.

-----------------------------------------------------
Komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini
~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~