<~Welcome~>
  • Dalam Gelap

    Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain justru tetap berada dalam kegelapan.

    --Mother Teresa--

  • Pahlawan

    Dan seorang Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.

    --Soe Hok Gie--

  • Apa Gunanya?

    Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah.

    Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?

    --Emha Ainun Nadjib--

  • Pujian dan Hinaan

    "Aku puji dan hina diriku sendiri sebelum orang lain memuji dan menghina diriku,

    sehingga semoga baik pujian maupun hinaan mereka tak berpengaruh terhadapku.

    la yakhafu laumata laim wala yafrahu madhal madihin

    --Me--

  • Dunia | Akhirat

    Jika engkau melihat seseorang yang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka ungguli dia dalam perkara akhirat.

    --Hasan al Bashri --

Kamis, 21 April 2011

Puisi Jawa Kuno

Alhamdulillah, 
ini adalah sebuah terjemahan puisi-puisi jawa kuno yang selama ini aku cari,
tentang ilmu, tentang hidup,

puisi ini kurang lebih sudah berumur 170 tahun

 Padha kaping 33 - Padha kaping 47

Ilmu (hakekat) itu diraih dengan cara menghayati
dalam setiap perbuatan, dimulai dengan kemauan
kemauan membangun kesejahteraan terhadap sesama,
Teguh pada budi pekerti luhur
Sembari menaklukkan semua nafsu angkara

------------------------------------------------------------------ 


Nafsu angkara yang besar
ada di dalam diri kita sendiri,
yang kuat menggumpal golonganmu hingga tiga zaman,
jika dibiarkan berkembang
akan berubah menjadi gangguan besar.

------------------------------------------------------------------

Berbeda dengan yang sudah menjiwai,
Watak dan perilaku yang memaafkan
Menghargai perbedaan
selalu sabar berusaha menyejukkan suasana,
------------------------------------------------------------------ 
 
Dalam kegelapan
angkara dalam hati yang menghalangi,
semua dapat larut dalam kesakralan hidup yang suci,
tenggelam dalam samudra cinta kasih,
cinta kasih sejati dari sang sukma (sejati)
tumbuh berkembang bagai gunung yang besar

------------------------------------------------------------------
Itulah yang pantas diteladani, contoh yang patut diikuti
seperti semua nasehatku
Jangan seperti zaman nanti !!
Akan banyak anak muda yang menyombongkan diri
dengan hafalan-hafalan ayat

------------------------------------------------------------------
Belum mumpuni sudah berlagak pintar
Mengartikan ayat bagai sayid dari mesir
Setiap saat meremehkan kemampuan orang lain

------------------------------------------------------------------
Yang seperti itu termasuk orang gemar mengklaim (budaya luar)
padahal kemampuan nalarnya dangkal
Keindahan ilmu Jawa (kearifan lokal) malah ditolak
Sebaliknya memaksa diri mengejar ilmu di mekah,

------------------------------------------------------------------ 

Tidak menemukan hakekat ilmu yang dicari,
padahal ilmu sejati berada di dalam jati diri.
Asal mau berusaha
Di sana maupun di sini (hakekatnya) tidak berbeda,
------------------------------------------------------------------ 
Asal tidak banyak bertingkah mengumbar nafsu,
agar ilmu merasuk ke dalam sanubari
Bila berhasil, terbukalah derajat kemuliaan hidup yang sejatinya
Seperti yang telah tersirat dalam tembang sinom (di atas)

------------------------------------------------------------------
Yang namanya ilmu hakekat,
Titik temu dan ketemunya dapat digapai dengan meredam nafsu
*jangan cari menangnya sendiri,
*benernya sendiri, dan
*butuhnya sendiri
Dan dicapai dengan usaha yang gigih
Bagi satria tanah Jawa,
dahulu yang menjadi pegangan adalah tiga perkara yakni;

Pertama, ikhlas bila kehilangan tanpa menyesal,
Kedua, sabar jika disakiti hatinya oleh sesama,
Ketiga, lapang dada sambil berserah diri pada Tuhan

------------------------------------------------------------------

Tuhan Maha Agung
Menjiwai dalam setiap hela nafas
hidup menyatu dengan Yang Mahakuasa
teguh mensucikan diri
Tidak seperti yang muda,
Yang mengumbar nafsu angkara

Tidak henti-hentinya gemar mencaci maki
Tanpa ada isinya, kerjaannya marah-marah
seperti sifat raksasa; bodoh, mudah marah dan suka menganiaya sesama

Semua kesalahan dalam diri selalu tertutupi,
Dibalut kata-kata yang indah
namun ia mengira tak ada yang mengetahuinya,
Bilangnya enggan berbuat jahat,
padahal tabiat buruknya membawa kehancuran

Belum cakap ilmu sudah keburu ingin dianggap pintar
Terselip hawa nafsu selalu merasa kurang,
tertutup oleh pamrih  
(cari menangnya sendiri, butuhnya sendiri, dan benernya sendiri)
Maka mustahil manunggal dengan Tuhan Yang Mahakuasa

------------------------------------------------------------------

 Padha Kaping 83 - Padha Kaping 87
Padahal bekalnya kehidupan, selalu waspada dan ingat,
Ingat akan tanda-tanda yang ada di alam semesta,
Menjadi kekuatannya asal-usul,
supaya lepas dari sengsara.
Begitulah memelihara hidup.

Maka rajinlah anak-anakku,
Belajar menajamkan hati, siang malam berusaha,
merasuk ke dalam sanubari, melenyapkan nafsu pribadi,
Agar menjadi (manusia) utama.

Mengasahnya di alam sepi (semedi),
Jangan berhenti selamanya,
Apabila sudah kelihatan, tajamnya luar biasa,
mampu mengiris gunung penghalang,
Lenyap semua penghalang budi.

Awas itu artinya, tahu penghalang kehidupan,
serta kekuasaan yang tunggal, yang bersatu siang malam,
Yang mengabulkan segala kehendak,
terhampar alam semesta.

Hati jangan lengah, waspadailah kata-katamu,
Di situ tentu terasa, bukan ucapan pribadi,
Maka tanggungjawablah,
perhatikan semuanya sampai  tuntas.

1 komentar:

  1. Judul asli Puisi ini apa y?
    Pengarangnya siapa?
    Makasih buat infonya :)

    BalasHapus

+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+
Pembaca yang baik selalu memberikan komentar atas informasi yang diterimanya,
baik berupa kritik, saran atau hanya sekedar komentar.

-----------------------------------------------------
Komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini
~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~