<~Welcome~>
  • Dalam Gelap

    Tidak jarang, mereka yang menghabiskan waktu untuk memberikan cahaya bagi orang lain justru tetap berada dalam kegelapan.

    --Mother Teresa--

  • Pahlawan

    Dan seorang Pahlawan adalah seorang yang mengundurkan diri untuk dilupakan seperti kita melupakan yang mati untuk revolusi.

    --Soe Hok Gie--

  • Apa Gunanya?

    Apa gunanya ilmu kalau tidak memperluas jiwa seseorang sehingga ia berlaku seperti samudera yang menampung sampah-sampah.

    Apa gunanya kepandaian kalau tidak memperbesar kepribadian seseorang sehingga ia makin sanggup memahami orang lain?

    --Emha Ainun Nadjib--

  • Pujian dan Hinaan

    "Aku puji dan hina diriku sendiri sebelum orang lain memuji dan menghina diriku,

    sehingga semoga baik pujian maupun hinaan mereka tak berpengaruh terhadapku.

    la yakhafu laumata laim wala yafrahu madhal madihin

    --Me--

  • Dunia | Akhirat

    Jika engkau melihat seseorang yang mengunggulimu dalam masalah dunia, maka ungguli dia dalam perkara akhirat.

    --Hasan al Bashri --

Selasa, 30 November 2010

Li Shu Wen

Li Shu Wen  李書文 (1864 - 1934)

adalah salah seorang LEGENDA dalam dunia bela diri China, Seorang ahli dalam Ba Ji Chuan (八极拳) / (BajiQuan)  atau Kungfu 8 Mata Angin (Hakkyokuken).
Li Shu Wen, Dalam Kenji



Li Shu Wen lahir di desa Chang Sha / Zhang Sha, propinsi Hebei yang terkenal sebagai tanah kelahiran aliran Kung Fu yang terkenal di penjuru RRC baik secara geografis maupun sejarah. 

ia Tumbuh dalam keluarga yang miskin.Karena kondisi itulah keluarganya menjual anak mereka pada kelompok opera Peking Wu Sheng yang mayoritas anggotanya adalah laki-laki. Orang tua Shu Wen berharap anak mereka akan mendapat hidup yang lebih baik. Kelompok ini menampilkan atraksi akrobat yang anggotanya mempunyai bela diri sebagai dasarnya. Namun demikian opera Cina agaknya bukanlah jalan hidup untuk Shu Wen. Akibat cedera dalam satu latihan, membuatnya terpaksa harus kembali pada keluarganya.

Namun Shu Wen yang malang masih beruntung karena berjumpa dengan Jin Dian Sheng dari desa Meng yang mahir ilmu pengobatan. Kebanyakan teori menyebutkan bahwa Jin Dian Sheng adalah penyebab mengapa Li Shu Wen kemudian belajar kungfu Ba Ji Quan dan ilmu tombak. Li Shu Wen kemudian juga belajar dari Huang Si Hai yang terkenal karena berhasil menang saaat perang di sungai Qing hingga mendapat medali kehormatan. /div>


Takdir Li Shu Wen memang berubah setelah dirinya belajar kungfu Ba Ji. Legenda mengatakan bahwa Shu Wen tidak segan-segan menantang pendekar Ba Ji dari keluarga lain hanya untuk mendapat jurus pamungkasnya. Bertarung dengan pendekar lain yang lebih hebat tentu saja beresiko kematian, namun Shu Wen tidak takut demi mendapatkan jurus andalannya. Kabarnya hal itu dilakukan setelah dirinya dihajar dan dipermalukan pendekar dari perguruan lain. saat itu Shu Wen lalu merasa kungfu Ba Ji  Quan miliknya tidak cukup ampuh dalam pertarungan.

Masa kanak-kanak yang menyakitkan ditambah kekalahan itu membuat harga dirinya terusik. Sejak itulah wataknya berubah menjadi dingin dan sedikit tertawa.. Hal ini terus berlanjut hingga sepanjang hidupnya. Setiap hari dilewatinya dengan latihan kungfu Ba Ji dari pagi hingga malam. Teknik yang dilatih Shu Wen kebanyakan adalah gerakan dasar yang sederhana. Cara berlatihnya ini akan terus berlanjut di kemudian hari saat diajarkan pada murid-muridnya. Dengan keinginan dan usaha keras telah membuatnya maju pesat, sekaligus membentuk karakter dan kung fu Ba Ji miliknya sangat berbeda dengan yang lain.

Berkat ketekunan, bakat dan kemampuannya mengasah kekuatan, Li hampir tidak pernah menyerang lawannya lebih dari sekali. *One Hit Kill*

Salah satu kalimatnya yang paling terkenal adalah 'Aku tidak tahu rasanya melayangkan pukulan kedua'. Karena rata-rata musuhnya sudah kalah atau bahkan tewas setelah terkena serangan pertamanya. Dia bahkan menarik perhatian begitu banyak murid dan tak heran, sejumlah ahli bela diri yang sudah termasuk pendekar papan ataspun berguru padanya.

Fisik Li Shu Wen tergolong biasa saja, tetapi semangat dan penampilannya sangat mengesankan. Ketika jenderal Xu Lan Shou dari Dong Bei menjadi murinya, banyak jenderal dan prajurit yang lantas juga ikut berguru padanya. 

Shu Wen kemudian mencoba ketangguhan ilmunya dengan menantang banyak pendekar terkemuka. Hasilnya mereka dikalahkan dengan mudah dengan teknik Ba Ji miliknya yang terkesan sederhana. Makin banyak yang menantang, makin terkenal pula nama Shu Wen hingga Jenderal pasukan Dong Bei bernama Xu Lan Shou menjadi muridnya. Sejak itu pula banyak prajurit dan komandan pasukan yang tertarik berguru padanya.

Karena dikenal banyak tokoh militer, nama Shu Wen didengar pula oleh Li Jing Lin yang saat itu mengawasi propinsi Hei Bei. Saat itu Li Jing Lin mengundang Shu Wen agar menjadi instruktur di Tian Jin. Namun Shu Wen ternyata bukanlah satu-satunya orang akan menjadi instruktur, karena Li Jing Lin juga mengundang dua ahli kungfu lainnya. Shu Wen kemudian mengatakan dengan terang-terangan pada Li Jing Lin bahwa kedua orang yang diundangnya tidak layak menjadi instruktur.

Suatu ketika Li Jing Lin mengadakan jamuan makan malam dengan mengundang banyak tamu terhormat termasuk Li Shu Wen. Setelah acara usai, Li Jing Lin mengijinkan tiga orang pendekar yang telah diundangnya membandingkan teknik masing-masing. Setelah memperagakan tekniknya, Shu Wen menyatakan di depan dua pesaingnya bahwa dirinya hanya akan menggunakan satu teknik saja untuk mengatasi kedua lawannya itu. Hal itu tentu saja tidak dapat diterima dua lawannya, apalagi teknik yang diperagakan Shu Wen sangat sederhana dan tidak tampak berbahaya.

Merasa diremehkan, salah satu dari pendekar itu segera menyerang Shu Wen. Serangan itu dengan mudah dielakkan oleh Shu Wen dan segera disusul sebuah serangan berupa telapak tangan ke arah wajah penyerangnya. Hasilnya sungguh mengerikan karena bukan hanya berhasil mematahkan tulang leher, namun serangan Shu Wen juga membuat bola mata lawannya sampai terlontar keluar. Lawannya tewas seketika.

Melihat rekannya tewas, pendekar kedua segera menyerang Shu Wen. Dengan tenang Shu Wen menggunakan teknik telapak yang sama ke kepala lawan. Melihat hal itu lawan segera menghindarkan kepalanya kesamping. Namun telapak Shu Wen masih berhasil mengenai bahu lawan dan berakibat tulang bahunya keluar dari persendian. Tidak hanya itu, serangan yang meleset itu juga mematahkan tulang selangka lawannya. Namun pendekar yang satu ini beruntung karena masih hidup meskipun cederanya sangat parah. Kisah ini adalah kisah nyata yang menggambarkan betapa seramnya kungfu Ba Ji aliran Li Shu Wen.

Li Jing Lin jelas sangat tidak senang melihat kedua pelatihnya tewas dan terluka akibat perbuatan Li Shu Wen, dan mulai membencinya.  Keduanya menjadi tidak akur dan setelah beberapa tahun, Li dipulangkan ke kabupaten Cang dan menjadi seorang Pengembara.

Murid terakhir sekaligus murid kesayangan Li adalah Liu Yun Chiao, juga merupakan muridnya yang paling terkenal. Kakek Liu adalah seorang Gubernur di Hebei. Ketika Liu masih kecil, dia lemah dan sering jatuh sakit. Ayahnya menyewa ahli beladiri untuk mengajari Liu kecil beladiri sekaligus agar tubuhnya menjadi kuat dan tidak mudah sakit. Guru terakhirnya adalah Li Shu Wen yang disewa ayahnya untuk tinggal dirumah dinasnya sehingga bisa mengajari Liu setiap hari. Setelah berlatih bersama 10 tahun lamanya, mereka mengembara keliling China (waktu itu belum Republik, masih kekaisaran) untuk mencari pengalaman lewat sejumlah latih-tanding. Liu sendiri pada akhirnya menjadi guru Ba Ji Chuan yang legendaris, seorang Grand Master.


» Kematian Li Shu Wen »

Li Shu Wen bukanlah orang yang ramah. Dia pendiam, selalu menerima tantangan duel, dan bahkan tak segan-segan untuk mengatakan bahwa serangannya akan berakibat kematian, dan umumnya, lawannya pasti tewas di tangannya. Bahkan di akhir hidupnya sekalipun. Li ditantang oleh seorang pednekar tombak yang jauh lebih muda darinya, walaupun sudah berumur lebih dari 70 tahun, Li tetap menerima tantangannya dan menewaskan pendekar muda tadi.  Keluarga pendekar muda tersebut marah dan berencana membunuh Li. 

Di suatu warung, ketika mampir minum dari perjalanan pulang ke kampung halaman dari ibukota, seseorang yang mengaku pengagumnya menawarinya minum teh yang terbilang sangat mahal, Li menerimanya tanpa sadar bahwa teh itu diracun. Nyawa Li tak tertolong lagi, ketika dokter tiba, Li sudah meninggal dalam posisi duduk bersila. Akhir hidup yang mengenaskan bagi seorang pendekar hebat. Walau begitu, Li sudah berkali-kali mengingatkan pada muridnya bahwa dia tahu bila banyak yang mendendam kepadanya dan tidak heran bila ada yang ingin membunuhnya. Di sisi lain, Li juga dikenal sebagai orang yang berdedikasi tinggi pada ilmunya. Setiap ada kesempatan, dia pasti melatih ilmu tombak yang merupakan favoritnya. Bahkan dalam pengajaran alirannya, hingga hari ini hal ini masih menjadi latihan rutin yang terbilang tidak biasa dalam pengajaran beladiri China pada umumnya..
Guru yang hebat akan menghasilkan murid yang hebat pula. Banyak murid-murdinya yang merupakan orang terkenal dalam sejarah beladiri. 4 muridnya dari desa Luo Tong adalah Han Hua Chen, Ma Ying Tu, Ma Fong Tzu dan Zhou Shu De. Mereka memperkenalkan bentuk paten Ba Ji Quan ke Central Martial Academy (Wisma Ilmu Negara) di Nanjing, sebuah organisasi yang memodernisasi teknik dan pembelajaran beladiri di China di awal masa kebangkitan Republik Rakyat China.


////----------------------------------------------------- ////
ia telah terlalu banyak membunuh orang,
dapat dibayangkan bagaimana perasaan keluarga, atau kerabat orang yang telah dibunuhnya,
sekalipun mereka mencoba membalas dendam, Li Shu Wen terlalu kuat, dan mereka yang mencoba membalas dendam, tak pernah menang dalam pertarungan karena itu,

oleh karena itu Li Shu Wen mati di Racun dalam minumannya,

¤Bagi para menteri, Ba Ji Quan digunakan untuk mengatur negeri.
¤Bagi para jenderal, Ba Ji Quan digunakan untuk mempertahankan negeri."


¤Jangan takut kepada orang yang mempunyai banyak jurus, tetapi waspadalah kepada orang yang mempelajari satu jurus dan melatihnya terus menerus" 
 - Li Shu Wen, kepada Liu Yun Qiao. (Murid Kesayangannya)


Kata Bijak :  
betapa kuatnya dirimu , tidak akan bisa menyelesaikan segalanya hanya dengan kekuatan saja,
jika menggunakan kekuatan untuk kekerasan, kekuatan itu akan kembali dan menghancurkanmu.

“Orang yang memegang pedang (ilmu bela diri) juga harus memegang gagangnya (hati dan rasa kemanusiaan), karena jika tidak, pedang itu akan melukai diri sendiri.


Terkait :
≈Ba Ji Quan


Referensi :
http://www.mangafox.com/manga/kenji/v01/c005/2.html
http://stephanloe.blogspot.com
http://indoshotokan.blogspot.com

0 komentar:

Posting Komentar

+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+
Pembaca yang baik selalu memberikan komentar atas informasi yang diterimanya,
baik berupa kritik, saran atau hanya sekedar komentar.

-----------------------------------------------------
Komentar anda sangat berarti untuk kemajuan blog ini
~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~+~